Broken home sering dikaitkan dengan tingkah laku atau karakter anak yang kurang baik alias tidak wajar. Bukan itu maksud sebenarnya, hanya saja itu merupakan salah satu yang timbul akibat Broken Home tersebut.
Prilaku anak, karakter anak hingga watak anak biasanya terbentuk dari lingkungan pada masa perkembangan dan pertumbuhannya. Yang pertama lingkungan keluarga, sekolah juga masyarakat. Namun yang paling berpengaruh di sini adalah peranan lingkungan yang nomor pertama. Lingkungan keluarga.
Lingkungan keluarga adalah lingkungan yang pertama yang di tempati anak. Di mana di dalamnya anak akan belajar beragai hal, seperti berjalan, berbicara hingga tingkah laku yang akan anak gunakan saat dia memasuki lingkungan baru yaitu lingkungan kedua dan ketiga.
Informasi pentingnya adalah. Bagaimana anak memperlajari semua itu? Jawabannya adalah dengan cara meniru.
Meniru?
Yup!
Jika seorang bayi sedang duduk diam kemudian orang-orang di sekelilingnya berbicara ataupu melakukan sesuatu. Maka anak yang melihat hal tersebut langsung menyimpan informasi di dalam ingatannya yang masih seperti kanvas kosong. Mengukirnya di sana dengan cat anti air dan menyimpan itu selamanya. Inilah yang menjadikan pepatah 'buah jatuh tidak jauh dari pohonnya' itu ada.
Sekarang, bukan masalah itu yang akan kita bahas. Tapi masalah peranan penting keluarga bagi anak. Anak anda sering sekali mengomel, mengeluh, bercerita atau sekedar melakukan sesuatu yang kita pun tidak mengerti apa maksudnya? Selamat! Berarti anda dan anak anda memiliki hubungan yang sehat.
Saya pernah melihat, seorang anak yang menurut orang lain nakal ! Saya pun awalnya berpikir demikian. Namun seiring berjalannya waktu, saya mulai mengenalnya lebih jauh. Saya melihat ada sesuatu yang lain dari dirinya. Anak itu sering sekali mengganggu temannya. Dia bahkan akan tertawa jika temannya mengomel dan merasa risih. Dia tidak menangis ataupun menanggapi ketika orang dewasa memarahinya sampai membentaknya. Dia tidak merespon, dan dari yang saya lihat dia tidak menunjukan dampak apapun.
Saya semakin intes memperhatikan gerak-geriknya dari hari ke hari. Dan saya semakin menemukan berbagai keanehan dalam diri anak itu. Saya kemudian mencari tahu apa sebenarnya itu, kemudian saya juga jadi sering mendengarkan banyak cerita tentang anak itu dari orang-orang.
Dan setelah hampir dua tahun saya mengenalnya, saya baru menyadari.
Dia melakukan semua itu karena ingin di perhatikan. Dia tidak tinggal dengan orang tuanya, sedangkan anak-anak lain yaitu teman-temannya bebas melakukan apapun kepada orang tuanya.
Yang kedua, dia sudah terbiasa mendengarkan hal-hal seperti makian, cacian, dan karena dia selalu menyimpannya sendiri dia tidak merasa terganggu lagi dengan hal-hal semacam itu.
Yang lebih membuat hati saya sakit yaitu, saat saya menyadari, betapa dia masih sangat kecil untuk menghadapi sulitnya hidup seorang diri. Dia terbiasa tidak bilang apapun kepada orang lain, karena dari awal dia tidak pernah melakukan hal yang demikian.
Disaat anak-anak lain memiliki orang tua yang menyambutnya di depan pintu saat pulang sekolah, mengingatkannya untuk makan bahkan menyuapinya, disaat anak lain di perhatikan segala kebutuhan sekolahnya. Dia melakukannya seorang diri. Disaat anak-anak lain bisa berkeluh kesah pada orang tuanya, dia tidak melakukannya. Bukan karena dia tidak mau. Tapi dia tidak mengerti akan hal itu , dia terbiasa menyimpan itu sendirian.
Anda bisa bayangkan bagaimana luka itu tertumpuk dalam hatinya, anda bisa bayangkan bagaimana dia merasa kesepian setiap harinya? Saya selalu berkata. Jika saya yakin, suatu saat dia pasti akan menjadi orang yang sukses!
Oleh karena itu, berbahagialah jika anda mendapati anak anda rewel atau bahkan banyak bicara pada anda. Tentang dirinya, aktifitasnya atau tentang kemarahannya. Dia hanya ingin meringankan bebannya, dan karena dia merasa anda dapat diandalkan dan karena dia mempercayai anda.
Jangan sampai anda memarahinya, mengatakan hal yang tidak baik padanya atau bahkan menghakiminya saat dia mulai terbuka dengan anda. Karena yang terjadi, dia akan menjauh dan lebih tertutup pada anda.
Yang harus anda takutkan bukanlah materi. Tapi anak anda. Anak yang Allah titipkan pada anda. Mau anda apakan dia? Mau anda jadikan seperti apa dia? Anda harus merasa takut, jika anak anda lebih nyaman bersama orang lain dari pada dengan anda.
Komentar
Posting Komentar