Sosiologi merupakan ilmu abstrak yang mempelajari tentang lapisan masyarakat. Selain memiliki banyak cabang, sosiologi juga menyangkut banyak hal. Salah satunya adalah bagaimana cara menyelesaikan persoalan yang terjadi di masyarakat.
Saya
yang biasa saja dan tidak menonjol, entah terserang angin apa tiba-tiba ingin
mendaftarkan diri dan mengikuti seleski wawancara untuk pemilihan anggota OSIS
saat itu. Banyak pengalaman baru yang saya dapatkan. Salah satunya adalah
kunjungan ke salah satu sekolah terbuka untuk anak-anak kurang mampu di salah
satu kecamatan yang terletak di Kota Cirebon.
Saya
dengan rekan-rekan saya yang lain meniaki angkot
untuk sampai disana, guru Sosiologi kami sudah menjelaskan segala hal tentang
sekolah itu. Bahakan, beliau pula lah yang meyarankan kami untuk berkunjung
kesana. Selain tempatnya yang tidak terlalu jauh, beliau juga merupakan pendiri
dari sekolah tersebut, jadi beliau mengetahui semua hal tentang tempat yang
akan kami kunjungi.
Perjalanan
memakan waktu hampir satu jam. Kami sampai dan disambut oleh jalan kecil khas
pedesaan. Rumah-rumah berjejer dikelilingi pohon-pohon juga tanah yang masih
terhampar luas. Berbeda dengan pemandangan kami sepanjang jalan sebelum kesini,
dimana tanah sudah dipenuhi aspal, semen dan bangunan lain.
Tempatnya tidak besar. Hampir 90 persen bangunan terbuat dari bambu dan kayu. Sebuah pohon tumbuh tinggi tepat di depan sekolah terbuka tersebut. Kami berdiri cukup lama di depan, memperhatikan bangunan sederhana itu cukup lama. Pagar dan atapnya yang teruat dari bambu, dindingnya yang terbuat dari triplek, halamannya yang cukup luas. Meskipun tidak seberapa, tapi sempat ini sangat berarti bagi mereka. Beberapa masyarakat pun iut berkumpul menyaksikan kedatangan rombongan kami.
Kami
dipersilahkan masuk. Dan saat kami pertama kali menginjakan kaki di bangunan
itu, kami sudah sampai_di satu-satunya ruangan di bangunan itu. Ruangan yang
cukup luas dengan interior khas sekolah anak-anak. Kami disambut oleh senyuman
anak-anak penghuni bangunan itu yang sudah duduk melingkar dengan pakaian rapi
mereka. Tidak ada sepatu, tidak ada kaos kaki, tidak juga seragam disana.
Mereka mengenakan pakaian seadanya dan, mereka terlihat sangat bahagia.
Kami
berada disana cukup lama. Mengobrol, melihat proses pembelajaran, hingga
menajwab banyak pertanyaan dari anak-anak penuh rasa ingin tahu disana.
Saya
kembali teringat dengan obrolan bersama guru Sosiologi kami sebelumya. Beliau menceritakan
awal mula beliau membuat tempat belajar terbuka tersebut.
Beliau
bukan hanya seorang guru, tapi beliau juga benar-benar menerapkan ‘Sosiologi’ pada
setiap prinsipnya. Awalnya anak-anak disana tidak mengenyam pendidikan. Mereka hanya
beridam dirumah, atau main diluar bersama teman-teman mereka, sementara orang
tua mereka sibuk bekerja sebagai nelayan. Banyak orang tua yang juga memiliki
keinginan seperti orang tua lainnya diluar sana. Bukan tentang sekolahnya, justru
mereka memikirkan nasib anak-anak mereka kedepannya. Mereka ingin melihat
anak-anak mereka bisa lebih melampaui mereka, mereka ingin anak-anak mereka
seperti anak-anak lainnya yang bisa melakukan apapun, mendapat hak apapun,
termasuk sekolah. Namun, karena kendala tempat tinggal, lingkungan, juga
ekonomi, hal itu hanya menjadi angan belaka bagi mereka. Mereka tidak bisa
berbuat banyak tentang itu. Tepatnya, mereka tidak tahu harus berbuat apa dan
melakukan apa untuk sampai disana.
Guru
kami, beliau sering memberikan tugas tentang penelitian untuk perkembangan
sosial di sekitar kita, tentang pedagang kecil, pengamen, dan pekerjaan lain
yang jarang masuk di layar. Beliau berhasil mengajarkan apa artinya peduli, apa
artinya sosiologi. Karena beliau pun menetapkan hal itu pada dirinya sendiri,
bukan hanya mengajar. Tapi mencontohkan.
Akhirnya,
dengan bantuan dari berbagai pihak, beliau berhasil mendirikan sekolah terbuka
tersebut. Banyak anak-anak dengan senyum cerah yang kami temui disana. Banyak
anak-anak dengan segudang prestasi, rasa ingin tahu dan anak-anak dengan dengan
mata cemerlang siap menyongsong masa depan bersekolah disana.
Kami
hanya membawa sedikit sekali bantuan untuk mereka, tapi, saat kami berpamitan,
berfoto, kemudian melambaikan tangan meninggalkan mereka, kami justru
mendapatkan banyak sekali imbalan yang tidak ternilai harganya dari mereka. Mereka
memberikan semua hal yang kami tidak miliki. Mereka mengingatkan kami akan arti
hidup yang sesungguhnya, mereka menigngatkan kami akan banyak hal yang selalu
kami lupakan. Terutama bersyukur. Semua pengalaman dan pelajaran berharga itu
masih tersimpan rapi di memori kami.
Setiap
anak layak mendapatkan pendidikan. Tidak terkecuali. Entah itu yang tinggal di
tengah kota, pegunungan, pinggir pantai, bahkan di hutan belantara sekalipun. Pendidikan
bukan hanya melulu tentang sekolah, tapi pendidikan bisa apapun yang dapat
memberikan manfaat besar bagi kehidupan. Jangan sia-siakan kehidupan kita
sekarang dengan hanya mengeluhkan banyak hal. Pada kenyataannya, pandangan
kitalah yang menentukan semua itu. Lihatlah kebawah. Masih banyak sekali
orang-orang yang hidupnya lebih sulit, lebih pahit dan lebih membutuhkan banyak
perjuangan dari pada kita. Tapi, mereka justru menikmatinya dan terus bersyukur
atas semua itu. Seperti anak-anak yang saya temui di sekolah terbuka tadi
misalnya.
Komentar
Posting Komentar